Foto Istimewa
(IHINEWS) Karawang, 13/08/2025 Industri tekstil Indonesia sedang mengalami masa suram dengan gelombang kebangkrutan yang melanda perusahaan-perusahaan besar maupun kecil. Situasi ini diperparah oleh banjir produk impor yang semakin deras, terutama dari China, membuat produk lokal kian tersingkir di pasar domestik sendiri.
PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yang telah berdiri sejak 1966, resmi dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negeri Semarang pada 21 Oktober 2024. Keputusan ini dikuatkan oleh Mahkamah Agung yang menolak kasasi perusahaan pada Desember 2024, dan pada 1 Maret 2025 Sritex resmi berhenti beroperasi.
Sritex bukan perusahaan sembarangan. Perusahaan ini pernah menjadi kebanggaan nasional dengan kontribusi ekspor mencapai 257,86 juta dolar AS pada 2022, menjadi pemasok seragam untuk NATO dan 30 negara lainnya, termasuk memenuhi kebutuhan seragam TNI dan seragam sekolah di Indonesia. Namun, perusahaan dengan sejarah gemilang ini akhirnya tumbang dengan total utang mencapai Rp 25 triliun, jauh melebihi aset yang dimiliki .
Dampak kebangkrutan Sritex sangat masif:
1. 10.965 pekerja kehilangan mata pencaharian.
2. Rantai pasok industri tekstil nasional terganggu.
3. Kepercayaan investor terhadap sektor tekstil Indonesia merosot
“Kebangkrutan Sritex bukan sekadar hilangnya satu perusahaan besar. Ini juga ancaman bagi industri tekstil nasional. Jika tak ada langkah penyelamatan, pabrik lain bisa menyusul,” tulis Aidhil Pratama dalam analisisnya di Kompasiana .
Sritex hanyalah puncak gunung es dari krisis yang melanda industri tekstil Indonesia. Data dari Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI) mencatat 60 perusahaan industri tekstil terdampak banjir impor pada 2023-2024, dengan berbagai kondisi mulai dari penghentian produksi, PHK massal, relokasi, hingga kebangkrutan total.
Beberapa fakta yang ditemui menunjukan data mencengangkan:
1. 10 fasilitas produksi tekstil gulung tikar
2. 28 pabrik tekstil menghentikan produksi
3. Lebih dari 14.221 pekerja terkena PHK dalam dua tahun terakhir
4. 4.377 orang kehilangan pekerjaan karena perusahaan bangkrut
Perusahaan-perusahaan besar yang terpaksa tutup atau mengurangi produksi termasuk PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) yang mem-PHK 2.500 pekerja di Karawang, PT Argo Pantes Tbk, PT Century Textile Industry Tbk, dan PT Ricky Putra Globalindo. PT Dupantex di Pekalongan juga tutup dengan ratusan pekerja seperti Bunayah yang belum menerima gaji selama tiga bulan dan tunjangan hari raya yang hanya dibayar 50%.
“Sekarang tekstil itu pelan-pelan bangkrut. Karena mereka sudah tidak ada profit untuk capital expenditure, untuk cari investasi baru,” ujar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ian Syarif kepada CNBC Indonesia. Jumlah pekerja di industri tekstil turun drastis dari 5,5 juta sebelum pandemi menjadi hanya 3,9 juta pada 2025.
Kejatuhan industri tekstil Indonesia disebabkan oleh gabungan faktor internal dan eksternal yang saling memperkuat:
1. Utang dan Dampak Pandemi
Sritex telah menumpuk utang bertahun-tahun sebelum akhirnya kolaps. Ketika pandemi COVID-19 melanda, permintaan tekstil global turun drastis, pasokan bahan baku terganggu, dan produksi tersendat. Utang yang sudah besar menjadi semakin tidak terkendali karena arus kas yang menipis.
2. Banjir Produk Impor Murah
Kebijakan pemerintah melalui Permendag No. 8 Tahun 2024 yang mempermudah impor tekstil menjadi pukulan telak. Produk tekstil China membanjiri pasar domestik dengan harga yang jauh lebih murah, membuat produk lokal tidak mampu bersaing . Data menunjukkan konsumsi produk lokal turun dari 65% pada 2016 menjadi hanya 56% pada 2019.
“China itu negara produsen tekstil terbesar, mereka menjadi kelebihan kapasitas. Nah kelebihan produksi itu berimbas ke mana? Ke negara yang lemah dalam penerapan trade barrier [hambatan perdagangan] yaitu Indonesia,” ujar Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja.
3. Kebijakan yang Kontraproduktif
Penolakan pemerintah menerapkan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) atas produk polyester oriented yarn (POY) dan draw textured yarn (DTY) semakin memperparah situasi. Investor asing yang semula tertarik menarik diri karena tidak ada jaminan iklim usaha yang fair.
“Investor asing sudah datang ke lokasi pabrik dan berkomitmen, kini menarik diri. Bagi mereka, tidak ada jaminan iklim usaha yang fair jika barang impor terus masuk tanpa hambatan,” jelas Sekretaris Jenderal APSyFI Farhan Aqil.
4. Konflik Global dan Ekonomi Lesu
Perang Rusia-Ukraina dan pelemahan ekonomi global mengurangi permintaan ekspor tekstil Indonesia. Negara-negara tujuan ekspor seperti Amerika dan Eropa mengurangi impor karena krisis ekonomi.
Krisis industri tekstil telah menimbulkan efek domino yang merugikan berbagai pihak:
1. PHK Massal dan Penderitaan Pekerja
Lebih dari 14.221 pekerja tekstil kehilangan pekerjaan dalam dua tahun terakhir . Kisah pilu pekerja seperti Bunayah di PT Dupantex yang belum menerima gaji selama tiga bulan dan Dewi di PT SAI Apparel yang memilih berhenti karena upah di lokasi baru lebih rendah menggambarkan dampak kemanusiaan dari krisis ini.
2. Hilangnya Kepercayaan Investor
Rencana investasi senilai US$250 juta atau sekitar Rp4 triliun dari investor asing batal karena ketidakpastian kebijakan . Merek olahraga ternama yang semula berencana beralih ke produksi lokal juga membatalkan kontrak.
3. Ancaman Deindustrialisasi
Industri tekstil yang selama ini menjadi tulang punggung industri manufaktur Indonesia terancam mengalami deindustrialisasi. “Kami sekarang di titik nadir. Tinggal tunggu mati satu per satu,” tegas Farhan Aqil dari APSyFI.
4. Penumpukan Stok dan Gangguan Rantai Pasok
Banyak pabrik tekstil mengalami penumpukan stok di gudang karena penjualan yang lesu. Selama Lebaran 2025, hanya 30% stok yang berhasil terjual. Toko-toko kesulitan membayar pabrik karena barang tidak laku, mengganggu rantai pasok secara keseluruhan.
Di tengah situasi yang suram, masih ada harapan untuk membangkitkan industri tekstil Indonesia jika dilakukan langkah-langkah strategis:
1. Revisi Kebijakan Impor
Pemerintah perlu mengevaluasi Permendag No. 8/2024 dan menerapkan kuota impor atau tarif lebih tinggi untuk produk yang bisa diproduksi dalam negeri. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan telah mengumumkan rencana penetapan tarif bea masuk 200% untuk produk tekstil China, meski belum jelas efektivitasnya.
2. Insentif untuk Industri Lokal
Keringanan pajak, subsidi energi, dan bantuan pembiayaan dapat membantu mengurangi biaya operasional perusahaan tekstil lokal. Pemerintah juga perlu konsisten menerapkan kebijakan yang melindungi industri dalam negeri.
3. Program Pelatihan Ulang Pekerja
Lebih dari 10 ribu pekerja Sritex dan ribuan pekerja lainnya membutuhkan pelatihan keterampilan baru untuk bertransisi ke sektor lain seperti industri kreatif atau digital.
4. Peningkatan Efisiensi dan Inovasi
Pelaku industri perlu berinovasi dengan meningkatkan efisiensi produksi, mengadopsi teknologi ramah lingkungan, dan menciptakan produk bernilai tambah tinggi . Transformasi digital juga menjadi keharusan untuk bersaing di pasar global.
5. Kampanye Cinta Produk Lokal
Perlu gerakan nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menggunakan produk tekstil dalam negeri. Dukungan konsumen lokal dapat menjadi penyangga saat pasar ekspor lesu.
Kebangkrutan Sritex dan perusahaan tekstil lainnya seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan pelaku industri. Seperti dikemukakan Aidhil Pratama, “Bangkrutnya Sritex bukan sekadar kegagalan satu perusahaan. Ini bukti industri nasional bisa tumbang tanpa dukungan pemerintah”.
Pemerintah perlu belajar dari negara seperti China yang melindungi industrinya sebelum membuka pasar, atau Vietnam yang memberikan insentif pajak dan memanfaatkan tenaga kerja murah secara strategis . Tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, industri tekstil Indonesia akan terus terpuruk dan kehilangan lebih banyak perusahaan serta lapangan kerja.
“Sritex memang sudah jatuh. Tapi masih ada kesempatan menyelamatkan industri tekstil lainnya,” tulis Aidhil Pratama.
Kesempatan itu masih ada, tetapi waktu terus berjalan, dan tanpa aksi nyata, masa depan industri tekstil Indonesia akan semakin suram di tengah banjir produk impor yang semakin deras.
Shanto Adi P/Editor

