Foto Istimewa
(IHINEWS) Karawang 09/08/2025, Perekonomian yang melambat telah menciptakan gelombang kekhawatiran baru, terutama bagi kelompok menengah. Kelompok ini, yang sering kali dianggap sebagai tulang punggung perekonomian sebuah negara, kini merasakan tekanan yang semakin berat. Narasi tentang “kelas menengah yang tergerus” bukanlah sekadar isu teoretis, melainkan realitas pahit yang dialami oleh jutaan keluarga.
Kelompok menengah diidentifikasi sebagai mereka yang memiliki penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, memiliki daya beli untuk barang dan jasa non-primer, dan mampu menabung atau berinvestasi untuk masa depan. Mereka adalah para profesional, manajer, pemilik usaha kecil, dan pekerja terampil. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang lesu, fondasi stabilitas finansial mereka perlahan-lahan runtuh.
Masalah utama yang dihadapi adalah tekstur ganda yang menekan pendapatan mereka. Di satu sisi, kenaikan gaji dan bonus menjadi langka, bahkan banyak perusahaan yang melakukan freeze terhadap upah untuk menekan biaya operasional. Pendapatan yang stagnan ini membuat daya beli mereka melemah.
Di sisi lain, biaya hidup terus meroket. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, dan cicilan rumah atau kendaraan tidak berhenti naik. Kenaikan harga ini tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan. Akibatnya, alokasi dana untuk tabungan, investasi, atau pengeluaran diskresioner (seperti liburan atau hiburan) terpaksa dipangkas habis. Impian memiliki rumah, menyekolahkan anak di sekolah terbaik, atau memiliki jaminan hari tua yang layak, kini terasa semakin jauh.
Tidak hanya daya beli yang terancam, keamanan pekerjaan pun semakin tidak pasti. Perekonomian yang lesu mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi, yang sering kali berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Pekerja yang memiliki gaji lebih tinggi dan dianggap sebagai beban biaya, sering kali menjadi target pertama. Ketika seorang anggota keluarga dari kelompok menengah kehilangan pekerjaan, dampaknya sangat besar. Mereka tidak hanya kehilangan sumber penghasilan utama, tetapi juga akses ke fasilitas kesehatan dan jaminan sosial lainnya yang selama ini mereka nikmati.
Fenomena ini mengancam terjadinya transformasi kelas sosial yang mengerikan. Sebagian dari kelompok menengah ini akan terlempar kembali ke dalam kelompok pendapatan rendah, atau bahkan kemiskinan baru. Mereka yang dulunya menjadi motor penggerak konsumsi dan pertumbuhan ekonomi, kini berjuang keras untuk bertahan hidup.
Pemerintah perlu menyadari bahwa lesunya ekonomi tidak hanya berdampak pada kaum miskin, tetapi juga secara signifikan mengikis fondasi kelompok menengah. Jika tren ini terus berlanjut, piramida sosial akan menjadi semakin timpang, dengan kesenjangan yang melebar antara segelintir orang kaya dan mayoritas yang semakin miskin. Keberadaan kelompok menengah yang kuat adalah indikator kesehatan ekonomi, dan tergerusnya mereka adalah sinyal bahaya yang harus segera diatasi.
Shanto Adi P/Editor

