KEKAISARAN GEMA DAN PARA PENJAGA SUARA

Fiksi

(IHINEWS) Di sebuah negeri bernama Gema, yang terhampar luas dengan sawah menghijau dan pegunungan megah, ada sebuah keanehan yang tak tertulis dalam buku sejarah mana pun. Kekuasaan di Gema tidak lagi dipegang oleh para cendekiawan, insinyur, atau dokter. Sebaliknya, singgasana pemerintahan, dari kursi menteri hingga kepala dinas, diduduki oleh mereka yang paling mahir dalam seni memanipulasi opini: para Penjaga Suara.

Dulunya, mereka hanyalah gerombolan anonim yang beroperasi di balik layar digital, menyebarkan narasi pemerintah dan membungkam kritik. Namun, dengan semakin kuatnya pengaruh media sosial, popularitas mereka meroket. Perlahan tapi pasti, para Penjaga Suara ini mulai menyadari kekuatan mereka yang sesungguhnya. Mereka bukan lagi sekadar alat, melainkan kekuatan itu sendiri.

Perdana Menteri saat ini, seorang pria bernama Bimo Suara Emas, adalah mantan koordinator jaringan buzzer terbesar di Gema. Ia tidak memiliki latar belakang ekonomi, hukum, apalagi administrasi negara. Keahliannya hanyalah merangkai kata-kata manis yang membuai, memelintir fakta dengan senyum licik, dan menciptakan gelombang dukungan yang tak terbendung melalui akun-akun palsu.

Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Pertanian kini dipimpin oleh seorang Penjaga Suara yang ahli dalam menciptakan tren “urban farming” di media sosial, meskipun produktivitas pangan nasional merosot tajam. Kementerian Kesehatan dipegang oleh seorang influencer yang fasih mempromosikan ramuan herbal tanpa bukti ilmiah, sementara rumah sakit-rumah sakit penuh sesak. Bahkan, Kementerian Keuangan kini dipimpin oleh seorang ahli “investasi receh” yang janji-janji manisnya lebih sering berujung pada kerugian massal daripada keuntungan.

Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan? Semuanya adalah proyek pencitraan belaka. Jembatan baru dibangun, bukan karena kebutuhan, melainkan karena visualnya yang indah untuk swafoto. Program pendidikan digulirkan, bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk menghasilkan slogan-slogan catchy yang viral. Anggaran negara? Lebih banyak dialokasikan untuk “konten kreatif” dan “kampanye positif” daripada infrastruktur atau layanan publik esensial.

Rakyat Gema awalnya terbuai. Setiap masalah yang muncul akan segera ditutupi oleh gelombang “narasi positif” dari para Penjaga Suara. Harga pangan naik? Mereka akan merilis video tentang keindahan memasak dengan bahan seadanya dan betapa murahnya hidup hemat. Infrastruktur rusak? Mereka akan membanjiri linimasa dengan foto-foto “kemajuan” yang sebenarnya belum terealisasi.

Namun, lambat laun, retakan mulai terlihat. Para petani mulai kelaparan karena kebijakan pertanian yang tidak realistis. Pasien meninggal karena sistem kesehatan yang bobrok. Dan generasi muda mulai bertanya-tanya: mengapa mimpi mereka terasa semakin jauh, sementara para pejabat sibuk menari di atas panggung virtual?

Di tengah kekisruhan ini, seorang pemuda bernama Ardi, seorang insinyur yang tak pernah mendapat tempat di pemerintahan, mulai mengumpulkan data. Ia tidak memiliki kekuatan suara, tetapi ia memiliki kekuatan fakta. Perlahan, ia membeberkan inkonsistensi, kebohongan, dan dampak nyata dari pemerintahan para Penjaga Suara.

Awalnya, suaranya tenggelam dalam riuhnya gemuruh pujian. Namun, ketika perut semakin kosong dan janji-janji manis terasa hambar, masyarakat mulai mencari kebenaran. Ardi bukan seorang Penjaga Suara, ia tak tahu cara memanipulasi. Ia hanya bisa menunjukkan kebenaran. Dan di negeri Gema yang telah lama hidup dalam ilusi, kebenaran adalah suara yang paling nyaring.

Shanto Adi P/Editor

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted