Foto istimewa
(IHINEWS) Karawang, 18/08/2025 Di tengah gedung-gedung pencakar langit megah di Jakarta, di balik pagar-pagar tinggi proyek strategis nasional, dan di antara pesta-pesta seremonial pejabat, rakyat biasa hanya menjadi penonton. Mereka menyaksikan kemerdekaan dirayakan dengan karnaval mewah, sementara mereka sendiri masih berjuang untuk sekadar makan sehari-hari, mendapat layanan kesehatan yang layak, atau mempertahankan tanah yang dirampas atas nama pembangunan.
Sejauh ini kemerdekaan hanya dikavling dan dimiliki oleh para elite. Terbukti bahwa kekayaan Indonesia hanya dinikmati oleh 1% elite, sementara mayoritas rakyat Indonesia harus berjibaku dan bekerja keras hanya sekedar untuk bertahan hidup. Harga kebutuhan barang pokok terus merangkak naik, tetapi para pejabat sibuk berdebat tentang proyek-proyek mercusuar yang tidak menyentuh kebutuhan dasar rakyat.
Rakyat pesisir seperti di Kohod, Tangerang, kehilangan akses ke laut karena pagar-pagar proyek properti mewah. Di tempet lain di pedesaan, para petani dirampas lahannya untuk pembangunan infrastruktur, tetapi tidak pernah mendapat keadilan. Sementara di perkotaan dan daerah industri para buruh kantor dan pabrik berjuang untuk tidak sampai diPHK walaupun akhirnya harus terpaksa mengorbankan hak-hak dasarnya sebagai buruh, seperti upah yang tidak sesuai dengan ketentuan seharunya, tidak adanya jaminan sosial dan lain-lain.
Demokrasi yang berjalan saat ini dikendalikan oleh oligarki. Pemilu hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan elite lama yang saling bergantian memegang kendali. Mereka mempertontonkan seolah-oleh mereka sedang menyuarakan kepentingan rakyat, padahal dalam kenyataannya suara rakyat tenggelam dalam hiruk-pikuk politik transaksional.
Rakyat Indonesia selama ini menjalani arti kemerdekaan yang salah. Kemerdekaan seharusnya berarti terbebas dari kelaparan, bebas dari ketakutan, dan bebas menentukan Nasib sendiri. Saat ini, rakyat mengibarkan bendera anime saja telah menimbulkan reaksi dan tindakan yang berlebihan dari para pejabat negara.
Kita tidak butuh lagi upacara kemerdekaan yang penuh kemewahan, kita butuh kemerdekaan yang nyata, yaitu kemerdekaan dari oligarki yang menguasai ekonomi dan politik, kemerdekaan dari ketidakadilan yang membuat rakyat kecil terus terpinggirkan, dan kemerdekaan untuk hidup layak tanpa harus bersaing dengan keserakahan segelintir orang.
Kemerdekaan Indonesia saat ini masih sebatas slogan. Kemerdekaan belum benar-benar dirasakan oleh petani, nelayan, buruh, dan rakyat kecil lainnya. Jika dulu kita berjuang melawan penjajah asing, sekarang kita harus berjuang melawan penjajahan baru oleh elite yang memonopoli kekuasaan dan kekayaan.
Shanto Adi P/Editor

