MENGORBANKAN SURGA PARIWISATA DEMI TAMBANG JANGKA PENDEK

Foto Istimewa

(IHINEWS) Karawang (12/06/2025) Pemerintah Indonesia kerap memilih jalan pintas eksploitasi sumber daya alam seperti tambang nikel di Raja Ampat ketimbang mengembangkan potensi pariwisata berkelanjutan. Padahal, keputusan ini mengancam ekosistem unik sekaligus menghambat peluang ekonomi jangka panjang.

Raja Ampat, dijuluki “surga terumbu karang dunia”, justru dijadikan lokasi tambang nikel sejak 1998. Padahal, kawasan ini merupakan destinasi wisata kelas global yang menyumbang devisa signifikan melalui ekowisata. Aktivitas tambang di pulau kecil seperti Pulau Gag (luas hanya 6.060 hektar) berpotensi memicu kerusakan berantai. Limbah kimia dan sedimen beracun dapat menyebar melalui arus laut, mengancam seluruh perairan Raja Ampat, termasuk kawasan geopark Piaynemo yang berjarak hanya 40 kilometer.

Kementerian ESDM menyatakan tambang di Pulau Gag “tidak bermasalah” hanya berdasarkan kunjungan singkat, tanpa uji laboratorium untuk mendeteksi logam berat terlarut seperti nikel (Ni). Padahal, nikel terbukti lebih beracun daripada tembaga dan dapat mematikan larva karang serta anemon laut. Profesor Yusthinus T. Male (ahli logam berat Universitas Pattimura) menegaskan perlunya tim peneliti independen yang bebas dari intervensi oligarki. Tanpa ini, hasil kajian lingkungan hanya jadi legitimasi politis belaka.

Pemerintah keliru dalam menghitung nilai ekonomi antara melakukan eksplorasi pertambangan dengan mengembangkan industry pariwisata. Raja Ampat menarik wisatawan global dengan keindahan bawah lautnya. Satu kerusakan karang akibat limbah nikel dapat memusnahkan seluruh daya tarik ini dan mata pencaharian masyarakat lokal yang bergantung pada sektor wisata. Dampak jangka panjang pencemaran logam berat pada rantai makanan (misalnya, ikan terkontaminasi) akan membebani sistem kesehatan dan merusak ketahanan pangan masyarakat pesisir.

Memilih tambang atas pariwisata di Raja Ampat ibarat menjual lukisan masterpiece Leonardo da Vinci untuk membeli arang. Nilai estetika, ekologi, dan ekonomi jangka panjang dikorbankan demi keuntungan sesaat. Indonesia perlu belajar dari kesalahan, batu bara, nikel, atau emas akan habis, tetapi terumbu karang, budaya lokal, dan panorama alam yang lestari adalah warisan abadi yang terus menghasilkan. Jika pemerintah konsisten menjadikan pariwisata sebagai sektor utama, mengapa membiarkan industri ekstraktif merusak aset terbaiknya?

Shanto Adi P/Editor

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted